Hampir setiap hari kita pasti menjumpai orang yang mengeluh, entah itu mengeluh tentang kehidupannya, mengeluh tentang keluarganya, mengeluh tentang lingkungan kerjanya, maupun keluhan-keluhan lain yang terkadang tidak penting..
Kali ini saya akan sedikit share tentang keluhan seorang karyawan. Nahhhhhhh,,jumlah karyawan begitu banyak di negara ini bahkan di dunia ini. Hampir setiap hari pula karyawan pasti memiliki keluhan yang beraneka ragam, mengeluh tentang atasannya yang mungkin kebijakannya tidak sesuai dengan keinginannya, mengeluhkan tentang rekan kerjanya yang mungkin sangat malas tapi justru cepat naik pangkat, dan masih banyak lagi keluhan para karyawan.
Saya hanya mau mengingatkan,
Selama kita masih menjadi seorang karyawan, kita dilarang mengeluh.
Why?? Mengapa??
Krn kita berkerja dalam sebuah sistem yang sudah ada, sebuah sistem yang dijalankan oleh manusia-manusia yang kita sebut sebagai atasan kita. Kalau tidak sehaluan dengan sistem tersebut, resign saja, jadilah pengusaha, dan kita lah yang akan membangun sebuah sistemnya.
Kita tidak bisa memilih untuk mendapat rekan kerja yang sepaham dengan pemikiran kita, kita tidak bisa memilih untuk mendapatkan atasan yang mengerti kita. Kita benar-benar hanya menerima sistem yang sudah jadi. Kalau kita mau memilih rekan kerja yang sesuai dengan keinginan kita, maka jadilah pengusaha. Kalau kita tidak mau mendengar ocehan dari atasan kita, maka jadilah pengusaha.
Soooo,,selama kita masih menjadi seorang karyawan, dilarang mengeluh ataupun protes tentang lingkungan kerja kita. Apapun yg terjadi, betapa buruknya sistem dalam lingkungan kerja, dilarang protes dalam bentuk apapun, karena kita cuma robot dalam sebuah sistem. Maka solusinya cuma 1, jadilah pengusaha dan kita bisa membentuk sistem seperti yg kita mau. Kita bisa mencari rekan kerja sesuai yang kita inginkan, kita bisa menciptakan peraturan sendiri tanpa harus menjilat, menyikut, maupun menangis..
Salam Entrepreuner..
Jumat, 26 Juni 2015
Minggu, 21 Juni 2015
Pelajaran Berbagi, Belajar Berbagi Ala Kami
Cukup terlambat untuk memposting hal ini, tapi lebih terlambat lagi kalau postingan ini tidak jadi diposting, hehex :-)
Beberapa bulan yang lalu, saya berupaya untuk menyentuh hari murid-murid saya, dalam hal ini anak perwalian saya sendiri dengan belajar ilmu sedekah.
Tanpa bermaksud latah, tapi saya menggunakan moment 27 April sebagai langkah untuk berbagi kepada sesama. Sebuah kelas yang notabene banyak berasal dari anak-anak tidak mampu, belum lagi di tengah situasi di mana gaya hidup glamour semakin menjadi tren anak muda saat ini.
Sy mencoba untuk mengajak mereka dalam aksi berbagi turun ke jalan, yang barangkali sangat jarang dilakukan oleh anak-anak seumuran mereka, di mana KTP saja mereka belum punya. Virus berbagi segera saya sengatkan ke mereka, otak mereka harus dipenuhi oleh hal-hal kebaikan.
Sebenarnya saya ingin mengajak semua kelas, tapi saya begitu membenci yang namanya alur birokrasi yang ribet. Daripada ribet dan malah tidak jadi, akhirnya saya action dg membawa 1 kelas anak perwalian saya saja.
Berawal dari sebuah tantangan untuk tidak jajan dalam 1 hari saja, dan uang jajan itu disedekahkan semuanya. Di luar dugaan saya, ternyata separuh lebih anak menuruti instruksi saya. Meskipun ada beberapa anak yang tidak kuat menahan rasa laparnya sehingga memutuskan untuk jajan juga. Tapi tak mengapa, namanya juga sebuah proses, namanya juga proses latihan. Karena yang lebih utama adalah pikiran mereka jadi semakin terbuka tentang pelajaran berbagi.
Setelah semua uang terkumpul, kami belikan nasi kotak, kemudian kami turun ke jalan langsung untuk membagikan sepaket nasi dan air minum kepada para tukang becak di dekat Pasar Johar Semarang. Dan tak lebih dari 10 menit, semua nasi kotak yang kami bawa itu langsung ludes tak bersisa. Dalam panas terik yang begitu menyengat, kami pulang kembali dalam sebuah senyuman.
Tanpa sebuah pertanyaan, tanpa sebuah komentar, namun saya bisa membaca dari keriangan wajah mereka, bahwa ada satu kelegaan yang membuncah luar biasa ketika bisa berbagi kebahagiaan kepada sesama meskipun hanya dalam sebuah nasi kotak.
Saya hanya sempat bertanya kepada 1 anak, bagaimana perasaannya. Dia menjawab bahwa dia begitu terharu, ketika saya justru ikut turun langsung bersama mereka, berpanas-panasan dengan mereka..
Ada banyak pelajaran dalam satu kegiatan ini saja,
PELAJARAN BERBAGI,
Sebuah pelajaran yang tidak pernah didapat dan diajarkan ketika berada di dalam kelas. Sebuah pelajaran yang hanya bisa dipraktekkan langsung tanpa banyak bicara, tanpa banyak rencana yang muluk-muluk, namun langsung action. Sebuah pelajaran bahwa seorang pemimpin tidak hanya bisa menyuruh, tidak hanya tukang perintah, tapi musti turun tangan langsung ke bawah, untuk membumi bersama dengan yang lain. Sebuah pelajaran untuk melepaskan sebuah beban yang masih menempel untuk digantikan dengan sebuah senyum karena bisa membuat orang lain tersenyum. Sebuah pelajaran yang tidak perlu menunggu kaya untuk berbagi. Sebuah pelajaran bahwa berbagi pun bisa dilakukan meskipun (mungkin) kita sendiri sebenarnya masih begitu kekurangan. Sungguh begitu banyak pelajaran yang bisa kita petik dari sebuah PELAJARAN BERBAGI (Pelajaran yang tak pernah diajarkan di kelas).
Teriring salam berbagi untuk anak-anak ku kelas X-AK1 2014/2015
Kalian begitu luar biasa, saya begitu bangga dengan kelas kalian
Jangan pernah berhenti untuk menjadi orang baik, tularkan virus kebaikan kepada semua orang :-)
Beberapa bulan yang lalu, saya berupaya untuk menyentuh hari murid-murid saya, dalam hal ini anak perwalian saya sendiri dengan belajar ilmu sedekah.
Tanpa bermaksud latah, tapi saya menggunakan moment 27 April sebagai langkah untuk berbagi kepada sesama. Sebuah kelas yang notabene banyak berasal dari anak-anak tidak mampu, belum lagi di tengah situasi di mana gaya hidup glamour semakin menjadi tren anak muda saat ini.
Sy mencoba untuk mengajak mereka dalam aksi berbagi turun ke jalan, yang barangkali sangat jarang dilakukan oleh anak-anak seumuran mereka, di mana KTP saja mereka belum punya. Virus berbagi segera saya sengatkan ke mereka, otak mereka harus dipenuhi oleh hal-hal kebaikan.
Sebenarnya saya ingin mengajak semua kelas, tapi saya begitu membenci yang namanya alur birokrasi yang ribet. Daripada ribet dan malah tidak jadi, akhirnya saya action dg membawa 1 kelas anak perwalian saya saja.
Berawal dari sebuah tantangan untuk tidak jajan dalam 1 hari saja, dan uang jajan itu disedekahkan semuanya. Di luar dugaan saya, ternyata separuh lebih anak menuruti instruksi saya. Meskipun ada beberapa anak yang tidak kuat menahan rasa laparnya sehingga memutuskan untuk jajan juga. Tapi tak mengapa, namanya juga sebuah proses, namanya juga proses latihan. Karena yang lebih utama adalah pikiran mereka jadi semakin terbuka tentang pelajaran berbagi.
Setelah semua uang terkumpul, kami belikan nasi kotak, kemudian kami turun ke jalan langsung untuk membagikan sepaket nasi dan air minum kepada para tukang becak di dekat Pasar Johar Semarang. Dan tak lebih dari 10 menit, semua nasi kotak yang kami bawa itu langsung ludes tak bersisa. Dalam panas terik yang begitu menyengat, kami pulang kembali dalam sebuah senyuman.
Tanpa sebuah pertanyaan, tanpa sebuah komentar, namun saya bisa membaca dari keriangan wajah mereka, bahwa ada satu kelegaan yang membuncah luar biasa ketika bisa berbagi kebahagiaan kepada sesama meskipun hanya dalam sebuah nasi kotak.
Saya hanya sempat bertanya kepada 1 anak, bagaimana perasaannya. Dia menjawab bahwa dia begitu terharu, ketika saya justru ikut turun langsung bersama mereka, berpanas-panasan dengan mereka..
Ada banyak pelajaran dalam satu kegiatan ini saja,
PELAJARAN BERBAGI,
Sebuah pelajaran yang tidak pernah didapat dan diajarkan ketika berada di dalam kelas. Sebuah pelajaran yang hanya bisa dipraktekkan langsung tanpa banyak bicara, tanpa banyak rencana yang muluk-muluk, namun langsung action. Sebuah pelajaran bahwa seorang pemimpin tidak hanya bisa menyuruh, tidak hanya tukang perintah, tapi musti turun tangan langsung ke bawah, untuk membumi bersama dengan yang lain. Sebuah pelajaran untuk melepaskan sebuah beban yang masih menempel untuk digantikan dengan sebuah senyum karena bisa membuat orang lain tersenyum. Sebuah pelajaran yang tidak perlu menunggu kaya untuk berbagi. Sebuah pelajaran bahwa berbagi pun bisa dilakukan meskipun (mungkin) kita sendiri sebenarnya masih begitu kekurangan. Sungguh begitu banyak pelajaran yang bisa kita petik dari sebuah PELAJARAN BERBAGI (Pelajaran yang tak pernah diajarkan di kelas).
Teriring salam berbagi untuk anak-anak ku kelas X-AK1 2014/2015
Kalian begitu luar biasa, saya begitu bangga dengan kelas kalian
Jangan pernah berhenti untuk menjadi orang baik, tularkan virus kebaikan kepada semua orang :-)
Topeng Dalam Sebuah Iman
Sebuah pengalaman yang cukup menggetarkan saya, ketika sebuah agama hanya sebagai kedok belaka.
Mungkin bisa saya bagikan,
Seorang kawan saya, agamanya bisa sy bilang sangat kuat, kerap kali selalu mengajak sholat berjamaah dengan kawan2 yg lain. Namun hati saya terasa bergidik tatkala mendapati sebuah fakta yang terasa kurang pas ketika ternyata banyak hak yg semestinya bukan menjadi hak nya ternyata dimanfaatkan untuk menjadi hak-nya sebagai lumbung bisnisnya. Sy cm bs mengelus dada dan banyak belajar dr peristiwa ini, bahwa kerap kali agama sungguh hanya menjadi sebuah kedok agar dipandang bersahaja oleh orang lain.
Ketika sy hrs mengutip sebuah kata bijak bahwa IMAN TANPA PERBUATAN ADALAH MATI. Maka untuk apakah manusia beriman secara sungguh, tapi dari segi perbuatan sungguh masih sangat jauh dari nilai-nilai keimanan itu sendiri. Ada baiknya merenungkan dan berkaca pada diri kita masing-masing, sudahkah iman yang kita miliki mampu diaplikasikan secara nyata dalam sebuah perbuatan baik. Atau justru iman kita akan Tuhan Yang Mahakuasa hanya ingin kita jadikan topeng untuk menutupi keculasan dan kecurangan yang kita perbuat.
Mungkin bisa saya bagikan,
Seorang kawan saya, agamanya bisa sy bilang sangat kuat, kerap kali selalu mengajak sholat berjamaah dengan kawan2 yg lain. Namun hati saya terasa bergidik tatkala mendapati sebuah fakta yang terasa kurang pas ketika ternyata banyak hak yg semestinya bukan menjadi hak nya ternyata dimanfaatkan untuk menjadi hak-nya sebagai lumbung bisnisnya. Sy cm bs mengelus dada dan banyak belajar dr peristiwa ini, bahwa kerap kali agama sungguh hanya menjadi sebuah kedok agar dipandang bersahaja oleh orang lain.
Ketika sy hrs mengutip sebuah kata bijak bahwa IMAN TANPA PERBUATAN ADALAH MATI. Maka untuk apakah manusia beriman secara sungguh, tapi dari segi perbuatan sungguh masih sangat jauh dari nilai-nilai keimanan itu sendiri. Ada baiknya merenungkan dan berkaca pada diri kita masing-masing, sudahkah iman yang kita miliki mampu diaplikasikan secara nyata dalam sebuah perbuatan baik. Atau justru iman kita akan Tuhan Yang Mahakuasa hanya ingin kita jadikan topeng untuk menutupi keculasan dan kecurangan yang kita perbuat.
CCTV dari langit tak pernah sedikitpun eror, maka tak usah bertopeng dalam sebuah intrik yang disebut agama ataupun keimanan.
Semoga kita mampu berkaca dari pengalaman ini.
Jangan pernah berhenti untuk menjadi orang baik :-)
Semoga kita mampu berkaca dari pengalaman ini.
Jangan pernah berhenti untuk menjadi orang baik :-)
Minggu, 05 Oktober 2014
Kalau kita berbeda, lantas kenapa???
Negeri kita tercinta sungguh telah mendunia dengan keberagaman yang ada di dalamnya. Berbagai macam suku, agama, ras, dan kepercayaan, semuanya lengkap untuk dijumpai di sini. Bangsa yang ramah memang telah menjadi image bagi bangsa Indonesia, sayangnya kerap kali beberapa gelintir orang yang mengatasnamakan suatu golongan justru merusak citra Indonesia di mata dunia.
Belum lama ini, seorang lurah di Jakarta Selatan pun terpaksa didemo oleh sekolompok orang yang mengatasnamakan golongan tertentu, meminta mundur ibu lurah karena memiliki perbedaan agama dengan mayoritas masyarakat sekitar.
Peristiwa yang terakhir pun nyaris sama, wakil gubernur Jakarta yang akan naik menggantikan Sang Gubernur karena Gubernur akan naik tahta menjadi presiden pun menjadi bulan-bulanan pendemo untuk segera turun dengan alasan perbedaan agama.
Barangkali di tempat lain pun masih banyak kejadian serupa, namun tidak terekspos media. Namun tidak kalah sedikit pun, di lain tempat, masih banyak masyarakat yang "open minded" terhadap sebuah perbedaan & tidak menjadikan perbedaan itu menjadi sebuah masalah & hambatan untuk sebuah keharmonisan hidup yang berdampingan.
Layaknya sebuah iklan di televisi, perbedaan itu seperti air dan minyak, keduanya tidak bisa bersatu, tapi bisa hidup berdampingan. Slogan seperti itu rasa-rasanya baik untuk terus ditumbuhkembangkan di tengah kemajemukan masyarakat Indonesia. Benturan antar sesama memang tidak bisa dihindari, tapi bukan berarti harus bermatirasa untuk membenci sebuah perbedaan.
Para generasi muda memang harus selalu ditanamkan untuk menyayangi sesamanya meskipun perbedaan melingkupi sekitarnya. Jangan sampai tontonan di televisi yang tidak dapat menerima perbedaan itu merusak pikiran para kaum muda untuk mencotohnya.
Murid saya pun harus selalu saya sisipkan nilai-nilai moral kehidupan dalam setiap pelajaran saya. Sebab kalau bukan berasal dari diri sendiri, lantas siapa lagi?? Karena kerap kali pelajaran pun hanya sekedar "text book" yang melupakan pelajaran akan nilai-nilai kehidupan yang begitu kompleks.
Masih saya jumpai beberapa murid saya pun kurang bisa menerima sebuah perbedaan, dengan menjadikan agama sebagai bahan becandaan yang mestinya tidak perlu, saling menghina dan merendahkan agama dan golongan lain dalam setiap perbicangan keseharian. Barangkali itulah potret kehidupan anak-anak sekolah saat ini karena terlalu sering disuguhi akan tontonan yang kurang sehat, yaitu menghina golongan lain sampai menggunakan keanarkisan untuk melawan perbedaan itu sendiri. Ditambah lagi di sekolahan mungkin mereka kurang diberikan pelajaran kehidupan tentang moral dan akhlak mulia. Pelajaran hanya sekedar hafalan buku semata yang minim akan ilmu terapan kehidupan.
Masih saya jumpai beberapa murid saya pun kurang bisa menerima sebuah perbedaan, dengan menjadikan agama sebagai bahan becandaan yang mestinya tidak perlu, saling menghina dan merendahkan agama dan golongan lain dalam setiap perbicangan keseharian. Barangkali itulah potret kehidupan anak-anak sekolah saat ini karena terlalu sering disuguhi akan tontonan yang kurang sehat, yaitu menghina golongan lain sampai menggunakan keanarkisan untuk melawan perbedaan itu sendiri. Ditambah lagi di sekolahan mungkin mereka kurang diberikan pelajaran kehidupan tentang moral dan akhlak mulia. Pelajaran hanya sekedar hafalan buku semata yang minim akan ilmu terapan kehidupan.
Sahabat saya pun beragama berbeda dengan saya, namun kami tidak pernah mengganggu peribadatan masing-masing. Justru kami belajar banyak dari keberbedaan itu & sungguh menyenangkan untuk bisa menjadi pribadi yang berbeda dengan ketoleransian yang tinggi di tengah keberagaman.
Semoga sedikit tulisan saya ini dapat membuka pikiran dan sikap kita semua dalam bertindak untuk lebih menghargai perbedaan yang ada. Semoga perbedaan bukan menjadi sebuah alasan untuk menebar benih permusuhan.
Semoga sedikit tulisan saya ini dapat membuka pikiran dan sikap kita semua dalam bertindak untuk lebih menghargai perbedaan yang ada. Semoga perbedaan bukan menjadi sebuah alasan untuk menebar benih permusuhan.
So, kalau kita berbeda, lantas kenapa??
Mari bergandengan tangan dalam sebuah perbedaan yang menyatukan. Semoga :-)
Senin, 29 September 2014
Pembelajaran berdemokrasi bagi pemilih pemula??? Haruskah???
Mumpung momentnya tepat, barangkali tulisan saya sedikit banyak akan membantu memberikan pencerahan dalam sebuah demokrasi yang sehat, khususnya bagi para pemilih pemula.
Belum lama ini, negara kita tercinta melaksanakan pesta demokrasi 5 tahunan, di mana masyarakat Indonesia melaksanakan pemilihan presiden. Begitu riuhnya suasana pencalonan, masa kampanye, saat pencoblosan, hingga penghitungan suara. Mungkin karena hanya ada 2 nama calon, sehingga kerap kali para pendukungnya berupaya menjatuhkan pasangan lawan satu sama lain.
Pesta demokrasi ini menjadi pelajaran berharga, khususnya bagi pemilih-pemilih pemula, usia anak SMA hingga anak kuliahan, mengenai bagaimana berdemokrasi secara baik dan benar.
Ada 3 hal proses pembelajaran yang mungkin bisa diambil oleh para pemilih pemula :
1) Sebuah proses demokrasi tentulah harus saling menghargai dan menghormati semua pasangan. Betapapun kita mungkin tidak senang dengan salah satu pasangan calon, tapi tentu saja bukan menjadi alasan untuk mencari cara menjatuhkan dengan hujatan, hinaan, maupun caci maki yang terlampau merendahkan. Sikap seperti itu tentulah justru akan menjadi bahan penilaian orang mengenai karakter seseorang. Kita akan semakin dapat menilai sejatinya sifat seseorang, apakah termasuk orang yang mudah tersulut dengan ontran-ontran yang kadang kala tidak jelas itu, ataukah termasuk orang yang mampu mengendalikan emosi secara baik.
2) Alangkah kurang bijaksana apabila calon pilihan kita ternyata tidak masuk kandidat dan kita memilih sikap untuk golput saja. Memang golput termasuk dalam hak azasi manusia, tapi dalam sebuah pelajaran demokrasi, kurang tepat apabila seseorang memilih untuk tidak memilih. Mungkin bagi sebagian orang akan beranggapan, "Kalau saya tidak memilih, tentulah tidak akan memberikan efek apapun, toh hanya 1 orang saja". Bayangkan apabila ada sekian ratus orang yang memiliki pikiran yang sama, tentulah akan semakin menyurutkan arti dari demokrasi itu sendiri. 1 suara begitu berharga ketika semua orang beranggapan yang sama untuk menyerukan "suara saya begitu berharga"
Lebih-lebih saya menghimbau untuk para pengajar bagaimana untuk terus mengajarkan siswanya untuk berdemokrasi secara lebih benar lagi. Apa jadinya negara ini ke depannya, apabila ada seorang pengajar yang justru (maaf) mengajarkan muridnya untuk golput saja. Dan ini harus menjadi pemikiran yang mendalam bagi semuanya saja. Selalu ada yang lebih baik menurut nurani kita, dan keputusan untuk memilih adalah sebuah penghargaan bagi loyalitas diri sendiri terhadap suatu institusi maupun negara (tergantung konteks pemilihannya).
3) Pelajaran yang terakhir adalah mengenai bagaimana untuk dapat bersikap legowo, menerima segala hal apapun yang telah menjadi hasil akhir dari sebuah pemilihan pimpinan. Sungguh tidak dibenarkan untuk siap menang tapi tidak siap kalah. Ketika ikut ambil bagian dalam sebuah pertarungan/perlombaan, mental yang harus dibawa adalah siap menang-siap kalah. Bagaimana mungkin dalam sebuah pertarungan akan menjadi pemenang semua, demikian sebaliknya, bagaimana mungkin sebuah pertarungan tidak ada pemenangnya. Mental ini memang harus ditanamkan sejak dari pemilih pemula. Jika hanya siap menang saja namun tidak siap kalah, alangkah lebih baiknya jika tidak usah ambil bagian dalam sebuah perlombaan/pertarungan tersebut. Lebih-lebih ketidaklegowoan itu mengakar hingga menjadi sebuah kebencian yang mendalam terhadap pemenangnya hingga terus mencari cara untuk menjatuhkannya lagi. Sebab lagi-lagi karakter asli seseorang akan semakin terlihat dari hal ini. Maka sudah sepatutnya untuk berjiwa besar dalam menerima kekalahan dan bersikap rendah hati ketika piala kemenangan berada di tangan kita.
Begitu banyak nilai kehidupan yang dapat diambil dari sebuah proses demokrasi. Besar harapan saya bagi para pemilih pemula untuk dapat lebih bijaksana dan dewasa lagi ketika berhadapan dengan sebuah pesta demokrasi, entah dalam lingkup kecil hingga lingkup pilpres.
Suara kita begitu berharga, berbesar hati ketika kalah, dan rendah hati ketika menang. Dengan begitu, pelajaran demokrasi bangsa ini akan semakin mendewasa. Semogaaaa :-)
Minggu, 02 Juni 2013
Math is Fun (Belajar tentang Nilai Kehidupan dari Rumus Phytagoras)
Phytagoras ???
Untuk anak sekolah barangkali kata tersebut sudah bukan hal asing lg. Tp rasa-rasanya hampir sebagian orang merasa ngeri alias serem dan alias alias yang laen begitu disuguhi soal phytagoras dan teman-temannya.
Namun tidak demikian dengan orang yang punya pikiran positif, klo anak gaul sekarang menyebutnya dengan pothink (positif thinking). Saya contohnya, bernarsis diri sejenak, hwuehehehehehex..
Mari saya ajak kalian untuk merenungkan satu kenyataan bahwa ternyata terdapat nilai kehidupan dalam sebuah rumus phytagoras. Seperti yang kita tahu bahwa phytagoras merupakan cara menghitung sisi dari sebuah segitiga siku-siku. Right? Lalu apa hubungannya? Look at the picture, please :
Nah lhoooo, jangan pusing dulu begitu liat gambar di atas. Nilai kehidupannya sederhana aja kok, hanya mengenai pilihan tentang hidup. Klo secara matematis kan rumus phytagorasnya begini :
Saya permudah saja daripada berumit-rumit ria.
Dalam hidup, pasti kita semua punya tujuan. Sebutlah bahwa kita saat ini berada di posisi B dan akan menuju ke C. Ada 2 cara yang bisa dilakukan, yaitu :
1. Orang akan mengambil 2 step dalam hidupnya yaitu dari titik B ke titik A lalu melanjutkan lagi hingga sampai di titik C.
2. Sebagian orang yang tidak ingin berlelah-lelah akan langsung mengambil jalan pintas dengan langsung memotong kompas dari titik B menuju ke C.
Toh pada kenyataannya, mau itu mengambil jalan pintas atau jalan biasa, tujuan manusia hanya 1, yaitu sebuah kematian sehingga rumus phytagoras akan berlaku juga bahwa
Memang tidak ada yang salah dengan jalan pintas selama kita tetap konsisten dengan nilai-nilai kejujuran. Ibarat kata, kalau ada jalan yang mudah mengapa harus dipersulit. Tp tentu saja kita tidak boleh menelan mentah-mentah pengibaratan tersebut. Tetap harus dicerna dengan pikiran dan hati yang jernih.
Ternyata belajar matematika tidak selalu memusingkan ya, banyak nilai-nilai kehidupan yang akan kita peroleh di dalamnya. Math is fun, hehehehehex..
So,,
THE CHOICE IS LIKE PHYTAGOREAN FORMULA ;)
Minggu, 2 Juni 2013, 11:25 AM
ericarani.blogspot.com
Selasa, 23 April 2013
Tendensi Uang dalam Dunia Pendidikan
Kehebatan suatu negara sebenarnya dilihat dari dua kacamata saja sudah cukup, yaitu pendidikan dan perekonomian. Tampaknya sederhana tapi justru kedua hal tersebut seperti sebuah lingkaran setan.
Sebuah negara miskin yang perekonomiannya begitu lemah hampir dapat dipastikan bahwa pendidikannya juga rendah. Namun untuk dapat melepaskan diri dari rantai keterpurukan bukanlah sebuah hal yang mudah. Ketika ingin menggerakkan pendidikan terlebih dahulu, tak bisa dipungkiri bahwa pendidikan membutuhkan dana yang tidak sedikit. Dan bagaimana hal tersebut dapat terwujud ketika perekonomian negara dalam keadaan yang terhimpit miskin. Namun ketika akan menggerakkan perekonomian terlebih dahulu, juga mesti ditunjang oleh manusia-manusia brilliant yang mumpuni di bidangnya. Nah, jelas kan bahwa ini terlihat seperti sebuah lingkaran setan. Maka tidaklah mengherankan jika sebuah negara miskin sangat sulit untuk keluar dari jerat kemiskinannya.
Lantas bagaimana dengan Indonesia ???
Mari saya ajak untuk melihat sekelumit kedua permasalahan tersebut.
Indonesia secara kasat mata dan konon ketika ditinjau dengan angka-angka statistik yang kerap kali "berkamuflase", Indonesia sebenarnya bukan termasuk negara miskin, bahkan bisa dikatakan sebagai negara berkembang. Indonesia mestinya mempunyai peluang untuk menjadi negara maju. Tapi apa kenyataannya ?? Hukum yang berlaku di negara ini adalah homo homini lupus yang artinya manusia merupakan srigala bagi manusia lain, manusia memakan manusia.
Lihat saja dunia pendidikan negara ini, begitu parau dan parah kedengarannya. Peristiwa yang belum lama terjadi, yaitu keputusan MK untuk membubarkan RSBI/SBI. Ternyata proyek itu membuat kebakaran jenggot orang-orang yang menikmati keuntungan di dalamnya. Dan karuan saja sebuah proyek tentang SKM untuk mengganti baju RSBI sedang disiapkan. Para petinggi pendidikan tidak ingin kehilangan akal mengenai peristiwa ini.
Ujian nasional SMA yang carut marut menjadi simbol bahwa ternyata UN hanya sebuah proyek yang tak jelas juntrungannya mengenai tender pengadaannya oleh orang-orang yang disebut para petinggi itu.
Dan sebentar lagi kurikulum pun akan segera berganti. Meskipun sebenarnya masih banyak daerah-daerah di desa yang mungkin baru mau akan memulai kurikulum KTSP, eeee sudah mau diganti lagi. Sosialisasi telah dilakukan, tapi beranikah orang-orang yang ngakunya petinggi pendidikan itu memulai sosialisasinya dari sebuah sekolah yang berada di pedesaan atau bahkan di pedalaman. Barangkali mereka hanya akan memelotot tajam untuk sebuah usul saya yang seperti ini, karena memang terdapat tendensi uang dalam setiap kebijakan.
Mengenaskan memang. Belum lagi uang sertifikasi guru yang nyatanya justru semakin membuat otak para guru menjadi serakah, pemalas, dan tidak ada ketulusan di dalamnya. Saya beri contoh nyata, bagaimana mungkin seorang kepala sekolah yang barangkali pastinya sudah menerima sertifikasi sangat sering untuk membolos dan bermalas-malasan di rumah untuk sebuah alasan yang (menurut saya) sangat mengada-ada. Hanya mau menerima gaji+sertifikasi tapi sangatttttttt malasssssss untuk mengabdikan diri lagi mencerdaskan anak bangsa. Dan masih banyak lagi guru-guru yang ketulusan mengajarnya diragukan, atau mengajar asal-asalan, dan hanya mau terima gaji rutin tiap bulannya.
Saya hanya bisa mengelus dada dengan keprihatinan negeri ini. Tidak selayaknya pendidikan di Indonesia disejajarkan dengan melulu tendensi uang. Dan sungguh saya salut dengan para pengajar yang mengajar di sekolah pedesaan dan pedalaman, justru mereka-mereka inilah pengajar-pengajar sejati yang tidak punya tendesi apapun di luar ketulusan niatnya untuk mencerdaskan generasi penerus bangsa ini.
Mari sama-sama merenung & berintrospeksi diri untuk lebih memajukan dunia pendidikan negara "tercinta" ini sehingga perekonomian pun boleh untuk semakin berkembang dengan satu konsep sederhana, yaitu perekonomian kejujuran dengan pendidikan yang tanpa tendensi apa pun di dalamnya. Semoga.
Ujian nasional SMA yang carut marut menjadi simbol bahwa ternyata UN hanya sebuah proyek yang tak jelas juntrungannya mengenai tender pengadaannya oleh orang-orang yang disebut para petinggi itu.
Dan sebentar lagi kurikulum pun akan segera berganti. Meskipun sebenarnya masih banyak daerah-daerah di desa yang mungkin baru mau akan memulai kurikulum KTSP, eeee sudah mau diganti lagi. Sosialisasi telah dilakukan, tapi beranikah orang-orang yang ngakunya petinggi pendidikan itu memulai sosialisasinya dari sebuah sekolah yang berada di pedesaan atau bahkan di pedalaman. Barangkali mereka hanya akan memelotot tajam untuk sebuah usul saya yang seperti ini, karena memang terdapat tendensi uang dalam setiap kebijakan.
Mengenaskan memang. Belum lagi uang sertifikasi guru yang nyatanya justru semakin membuat otak para guru menjadi serakah, pemalas, dan tidak ada ketulusan di dalamnya. Saya beri contoh nyata, bagaimana mungkin seorang kepala sekolah yang barangkali pastinya sudah menerima sertifikasi sangat sering untuk membolos dan bermalas-malasan di rumah untuk sebuah alasan yang (menurut saya) sangat mengada-ada. Hanya mau menerima gaji+sertifikasi tapi sangatttttttt malasssssss untuk mengabdikan diri lagi mencerdaskan anak bangsa. Dan masih banyak lagi guru-guru yang ketulusan mengajarnya diragukan, atau mengajar asal-asalan, dan hanya mau terima gaji rutin tiap bulannya.
Saya hanya bisa mengelus dada dengan keprihatinan negeri ini. Tidak selayaknya pendidikan di Indonesia disejajarkan dengan melulu tendensi uang. Dan sungguh saya salut dengan para pengajar yang mengajar di sekolah pedesaan dan pedalaman, justru mereka-mereka inilah pengajar-pengajar sejati yang tidak punya tendesi apapun di luar ketulusan niatnya untuk mencerdaskan generasi penerus bangsa ini.
Mari sama-sama merenung & berintrospeksi diri untuk lebih memajukan dunia pendidikan negara "tercinta" ini sehingga perekonomian pun boleh untuk semakin berkembang dengan satu konsep sederhana, yaitu perekonomian kejujuran dengan pendidikan yang tanpa tendensi apa pun di dalamnya. Semoga.
Kamis, 24 Januari 2013
Yang Terbesar di Dunia
Tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini semakin banyak orang berbicara tentang gemerlap dunia, menimbun kekayaan, enggan untuk berbagi, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan tujuannya menjadi "kaya". Namun, tahukah Anda, semakin mereka berusaha keras, dunia tak akan pernah memuaskan mereka. Ibarat menggenggam dunia seperti menggenggam sebuah bola, padahal nyata-nyatanya dunia tidak akan pernah bisa digenggam. Karena begitu sulitnya menggenggam dunia, maka yang kerap kali terjadi adalah bukannya dunia yang dikuasai, tetapi mereka yang dikuasai oleh dunia. Manusia sudah tidak bisa lagi menguasai dirinya sendiri, melainkan menjadi budak dari keinginannya.
Teringat sebuah pertanyaan seorang teman, "Di dunia ini, apakah yang paling besar ?"
Sejenak saya terdiam berpikir.
Lalu saya jawab dengan bercanda, "Anak TK saja tahu bahwa yang paling besar di dunia ini adalah Gunung. Gunung Mount Everest mungkin."
Dan kawan saya berujar,"Salahhhhhh!!! Yang terbesar di dunia ini adalah NAFSU."
Lalu kami tertawa.
Seperti sebuah lelucon, tapi ada benarnya dengan perbincangan kami, bahwa Nafsu memang telah menjadi yang terbesar di dunia dan tentu saja telah membutakan mata hati siapa saja yang kurang beriman. Nafsu untuk mendapatkan jabatan yang tinggi, nafsu untuk mendapatkan harta yang banyak, bahkan nafsu untuk mempunyai istri banyak. Terlalu banyak yang terkena penyakit "Nafsu" ini. Dan lucunya, orang-orang berlomba-lomba mengejarnya dengan memasang muka tembok beton tak berurat malu. Ahhh, gilaaa, mungkin dunia sudah mau kiamat.
Jujur dianggap aneh. Orang sudah tak lagi mementingkan proses. Sederhana juga tak lagi menjadi gaya hidup impian. Prinsip ekonomi sudah mulai menjadi tidak waras lagi dengan memplesetkan "Dengan sedikit pengorbanan, orang akan berusaha mencari keuntungan sebesar mungkin. Bahkan jika bisa, hanya dengan sekedip mata saja, seonggok emas dan setumpuk uang sudah terkumpul di hadapan."
Ya, PARAHHH memang !! Saat ini pemaknaan manusia mengenai kehidupan hanya dikonkretkan dalam wujud materi, yang mana semuanya itu bermuara pada kepentingan diri semata. Semua relasi, tendensi, dan aktivitas manusia hanya dinilai dari mata uang.
Meluruskan kesalahan orang, malah dimusuhi. Menasehati kekeliruan orang, malah mendapat caci maki. Kawan telah jadi lawan. Sahabat telah menjadi menjadi pengkhianat hanya karena kekuasaan dan materi belaka yang akan musnah ketika manusia mati. Sungguh dunia ini kini terbalik-balik, tak tahu yang mana kawan yang mana lawan, ibarat membeli kucing dalam karung.
Dan hanya satu yang membedakan antara manusia yang alim dan lalim/zalim. Penghayatan akan kebutuhan transendental. Semakin manusia memaknai secara mendalam akan kebutuhan tersebut, tentulah kedekatan dengan Tuhan jua lah yang akan memuaskan nafsunya, bukan lagi dengan materi, kekuasaan, maupun jabatan yang fana.
"Carilah dulu Tuhan beserta kebenarannya, maka semuanya akan ditambahkan kepadamu! Karena sesungguhnya upahmu akan besar di Surga"
Amin.
Selamat merenung ;-)
ericarani.blogspot.com
Semarang, Kamis, 24 januari 2013, 7:56AM
Jumat, 18 Januari 2013
Sejenak Berdoa
Sebelum mata terpejam, di saat badan telah lelah beraktivitas seharian, ada baiknya sejenak tundukkan kepala, membuka hati, mengucap syukur, menyerahkan jiwa hanya kepadaNYA yang memiliki kuasa atas hidup manusia dengan berucap :
Tuhan,
Aku menyerahkan seluruh keuanganku kepadaMU
Kiranya aku menjadi hamba yang baik dari setiap keping talenta yang telah Engkau titipkan kepadaku
dan tolong aku mengingat,
bahwa segala kepunyaanku sebetulnya adalah milikMU
Aku berdoa supaya aku mudah untuk memberi kepadaMU dan sesamaku
Karena aku sangat menayadari,
bahwa jika aku mencari kerajaan-MU terlebih dahulu,
maka semua yang kubutuhkan akan ditambahkan kepadaku.
AMIN.
ericarani.blogspot.com
Semarang, 18 Januari 2013, 08:53 AM
Sabtu, 22 Desember 2012
Dewasaaa ???
Apa yang terlintas dalam benak kita ketika melihat judul "Dewasa ??" Mungkin sebagian orang akan berpikir bahwa dewasa berarti tua. Atau juga dewasa berarti bijak. Barangkali dewasa juga dimaksudkan untuk menjelaskan tentang pikiran yang berwawasan luas. Hhmmm, persepsi orang pasti berbeda-beda. Tapi menurut saya, kedewasaan tidak tergantung dengan umur, melainkan erat kaitannya dengan emosi.
Kerap kali kita mendengar ungkapan bahwa "Menjadi tua itu pasti, tapi menjadi dewasa adalah pilihan". Jadi tidak semua orang yang sudah berumur memiliki sikap kedewasaan yang matang. Banyak juga orang-orang yang dari segi umur mestinya bisa bersikap bijak, namun ternyata malah menonjolkan sisi kekanak-kanakan. Sungguh ironi memang, tapi itulah yang membenarkan ungkapan bahwa dewasa adalah sebuah pilihan. Apakah kita berani memilih untuk menjadi dewasa ataukah kita memilih untuk menjadi tua tanpa pernah mendalami arti tentang kedewasaan yang sesungguhnya ???
Seseorang dikatakan dewasa ketika bisa mengontrol dirinya dengan sangat baik, mengontrol emosi, mengontrol pikiran, mengontrol ucapan, mengontrol tingkah laku. Saya ilustrasikan begini :
Ketika kita dilukai, pasti tensi akan naik, perasaan sakit yang mendera pasti sangatlah perih, yang juga emosi kita akan ikut melonjak. Nah di sinilah sisi kedewasaan akan memainkan perannya. Kita akan bisa menilai kepribadian seseorang dari hal itu. Jika emosi seseorang meluap dengan sangat dasyatnya bahkan dengan nada yang lantang marah-marah tak jelas haluannya, saya bisa mengatakan bahwa orang tersebut jauh dari kata dewasa. Demikian sebaliknya, ketika emosi bisa dikontrol, pikiran tetap tenang, nada pembicaraan tetap terjaga, walau akan sering-sering menghela nafas panjang dan ber-Istighfar "Astaghfirullahhal' adhim", di situlah seseorang bisa dikatakan dewasa.
Memang sungguh bukanlah sebuah perkara mudah untuk tetap bisa mengendalikan segala sesuatunya saat berada dalam keadaan tersakiti. Tapi dengan terus melatih diri, menata keadaan yang menyakitkan dalam suatu konsep bahwa Tuhan tidak pernah tidur dan melihat semuanya, termasuk hati kita yang terlukai, maka point kedewasaan kita akan semakin bertambah dalam dua tahap sekaligus, yaitu kedewasaan diri dan kedewasaan iman. Dan dua hal itu lah yang menjadi pondasi beriringan dalam pilihan kita untuk menjadi dewasa.
Selamat merenung
;-)
ericarani.blogspot.com
Memang sungguh bukanlah sebuah perkara mudah untuk tetap bisa mengendalikan segala sesuatunya saat berada dalam keadaan tersakiti. Tapi dengan terus melatih diri, menata keadaan yang menyakitkan dalam suatu konsep bahwa Tuhan tidak pernah tidur dan melihat semuanya, termasuk hati kita yang terlukai, maka point kedewasaan kita akan semakin bertambah dalam dua tahap sekaligus, yaitu kedewasaan diri dan kedewasaan iman. Dan dua hal itu lah yang menjadi pondasi beriringan dalam pilihan kita untuk menjadi dewasa.
Selamat merenung
;-)
ericarani.blogspot.com
Semarang, 22 Desember 2012
Rabu, 14 November 2012
BERBAGI DALAM KEKURANGAN
Sungguh menyentuh mendengar seseorang memberi siraman jiwa yang begitu menyejukkan dan memberikan kedamaian.
Seorang yang kaya berderma?? Barangkali itu sudah biasa. Tapi ketika seorang yang hanya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya saja masih sangat kekurangan, dan dia bisa mendermakan seluruh nafkahnya, itu baru bisa disebut Amazing. Tapi beranikah kita bertindak seperti itu?? Sepertinya kita harus berpikir ratusan kali untuk melakukannya.
Sebagai ilustrasi,
Seorang kaya yang punya banyak duit menyumbang pembangunan masjid sebesar Rp 1.000.000,00, sementara penghasilannya 1 bulan mencapai puluhan juta. Sedangkan seorang wanita tua renta juga ikut menyumbang pembangunan masjid sebesar Rp 100.000,00 dan itulah satu-satunya uang yang dimilikinya.
Dalam ilustrasi tersebut tampak jelas bahwa si orang kaya memberi derma dari kelebihannya sementara si wanita tua tersebut memberi dari kekurangannya.
Lantas bagaimana dengan kita???
Ketika kita akan berderma, di dompet terdapat uang dengan warna merah(100.000) , biru(50.000) , dan hijau(20.000), manakah yang akan kita dermakan?? Sepertinya jika disuruh memilih, kebanyakan dari kita akan mendermakan yang berwarna hijau. Itu berarti kita berderma dari kelebihan yang kita punyai. Sedangkan ketika kita berani mengambil keputusan untuk mendermakan yang berwarna merah, itulah yang disebut berderma dari kekurangan kita.
Sooooo, beranikah kita memberi dari kekurangan kita??? Apapun pilihan kita, esensi dari berderma adalah ketulusan dan keikhlasan. Berapapun nominalnya, jika kita memberi dengan keterpaksaan, tentulah tiada artinya. Dan satu hal lagi, bahwa tidak perlu menunggu kaya untuk bisa berderma.
Selamat Merenung ;-)
Jumat, 25 Mei 2012
THE POWER OF SPIRIT
Tahukah Anda bahwa Semangat adalah sebuah pola pikir yang akan menentukan tindakan kita dalam menyikapi hidup. Barangkali sebuah kisah pendek ini bisa menjadi inspirasi untuk kita semua.
Sebut saja seorang bernama Agusta, dia mendirikan sebuah toko sembako di sebuah gubug sederhana. Semua orang berpikir bahwa ia tidak akan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya hanya dengan mengandalkan penghasilan tokonya. Tidak ada seorang pun yang mengira bahwa ia akan mampu meraih kesuksesan.
Selama tiga hingga empat tahun pertama, ia tidak mendapat keuntungan yang memuaskan. Kenyataan ini seakan-akan menjadi bukti dari prediksi tetangga-tetangganya dan teman-temannya yang mencibirnya terus-menerus. Namun Agusta tidak berubah menjadi murung. Ia tidak mengeluh pada siapapun tentang penghasilannya yang tidak memuaskan itu. Siapapun yang bertanya padanya, selalu dijawabnya dengan percaya diri bahwa usahnya sedang berjalan lancar.
Selama tiga hingga empat tahun pertama, ia tidak mendapat keuntungan yang memuaskan. Kenyataan ini seakan-akan menjadi bukti dari prediksi tetangga-tetangganya dan teman-temannya yang mencibirnya terus-menerus. Namun Agusta tidak berubah menjadi murung. Ia tidak mengeluh pada siapapun tentang penghasilannya yang tidak memuaskan itu. Siapapun yang bertanya padanya, selalu dijawabnya dengan percaya diri bahwa usahnya sedang berjalan lancar.
Orang-orang hampir tidak bisa mempercayai apa yang dia katakan. Akan tetapi tibalah saatnya di mana kesuksesan bisnisnya mulai terlihat. Belum lama ini, ia mengejutkan semua orang dengan membangun pabrik dan menjadi seorang agen minyak. Dia juga memiliki dua buah truk dan toko sembakonya menjadi toko sembako terbesar di kotanya.
Krisis dan masalah-masalah pribadi yang dihadapi kadang-kadang memang bisa memudarkan semangat. Namun percayalah, Tuhan telah menciptakan manusia dengan segenap kemampuannya. Jika Anda tidak percaya pada kemampuan Anda yang merupakan anugerah Tuhan, berarti Anda tidak percaya pada Tuhan. Percayalah bahwa dengan sebuah keyakinan bisa menggerakkan gunung. Biarlah keyakinan itu membimbing jiwa dan raga Anda dalam bertindak.
Dan hasilnya akan sangat mengejutkan !
ericarani.blogspot.com
Selasa, 22 Mei 2012
SABAR MENANTI WAKTU TUHAN
Di dalam hidup ini ada waktunya
Ada waktu untuk menabur
Ada juga waktu untuk menuai
Mungkin dalam hidupmu badai datang menyerbu
Mungkin doamu bagai tak terjawab
Namun yakinlah tetap
Tuhan takkan terlambat !
Juga tak akan lebih cepat !
Semuanya . . .
DIA jadikan indah tepat pada waktuNYA
Tuhan selalu dengar doamu !
Tuhan tak kan pernah tinggalkanmu !
PertolonganNYA pasti akan tiba tepat pada waktuNYA
Bagaikan kuncup mawar pada waktunya akan mekar,
Percayalah . . .
Tuhan jadikan semua indah pada waktuNYA
Nantikan DIA bekerja pada waktuNYA
Tuhan takkan terlambat
Juga takkan lebih cepat
Ajarilah kami setia untuk selalu menanti waktuMU, Tuhan.
Selamat Merenung
;-)
ericarani.blogspot.com
TUHAN KADANGKALA . . .
Engkau membiarkanku hancur, sehingga Engkau membangunnya kembali.
Engkau membiarkanku terluka, sehingga Engkau memulihkannya.
Engkau membiarkanku bimbang, sehingga aku mencari kebenaranMU.
Engkau membiarkanku kosong, sehingga Engkau mengisiku.
Engkau membiarkanku sendirian, sehingga aku tahu hanya Engkaulah sahabatku.
Engkau membiarkanku berada dalam keraguan, sehingga aku belajar beriman.
Engkau membiarkanku menderita, supaya aku merasakan penderitaan orang lain.
Engkau membiarkanku melihat keindahan hidup, sehingga aku akan melihat bahwa segalanya tidak akan ada artinya dibandingkan dengan mengenal Engkau adalah Tuhanku.
Inilah Hidup
Selamat merenung
;-)
ericarani.blogspot.com
Jumat, 13 April 2012
Padamkan Nyalaku dan Aku kan Tetap Bersinar di Tempat Lain
Lilin ini pernah menyala di dalam kegelapan
dengan kerapuhan mencoba bertahan dalam remang terangnya
cacian, makian,hujatan, menjadikan getir dalam sisa-sisa
penghabisannya
hanya satu harapannya,
mampu menjadi terang untuk menghalau kegelapan
Namun manusia kini lebih senang dengan kuasa hitam itu
menghalau dengan berteriak, “Jangan bersinar dalam
kegelapanku !”
manusia lebih bangga bertahan dalam lingkaran kekelaman
meski nuraninya menyangkal dengan sangat kerasnya,
tapi tetap saja hati tak bisa berdusta untuk mengisyaratkan kesejatian
kebenaran
Sakitnya lelehan lilin ini menjadi pertanda akan perihnya
penolakan
Niat menghidupkan sinar di tengah kekalutan,
justru dalam sekejap mata dipadamkan dengan sekali hembusan
nafas
Padamkan saja nyalaku,
itu akan lebih baik untuk meredam pedihnya penghinaan
untukku
karena aku akan tetap bersinar menghalau kegelapan di tempat
lain
karena memang sudah menjadi panggilan kodratiku
untuk membagikan sinar kepada siapa saja yang takut untuk
melangkah
kepada manusia yang ingin merasakan hangatnya kebaikanku
dan tentu saja kepada jiwa-jiwa yang masih ingin
diselamatkan untuk mencapai kekekalan Surga
ericarani.blogspot.com
Semarang, 11 April 2012, 14:00
Selasa, 10 April 2012
Tuhan Menanti Untuk Ditemukan
Seperti seorang anak kecil yang ikut terlibat bermain petak umpet dengan teman-temannya, seperti itulah Tuhan menanti untuk ditemukan. Karena alasan yang tidak diketahui, teman-temannya berhenti bermain dan pergi meninggalkannya, sementara anak kecil tersebut masih bersembunyi. Dan akhirnya anak kecil itu mulai menangis.
Tiba-tiba kakeknya yang sudah tua keluar dari rumah untuk mencari tahu apa yang membuatnya menangis dan sang kakek pun mencoba menghiburnya. Setelah mengetahui apa yang terjadi, kakek itu berkata, "Cucuku, jangan menangis karena anak-anak itu tidak datang menemukanmu. Barangkali engkau dapat mempelajari sesuatu dari kekecewaanmu. Semua bentuk kehidupan adalah seperti satu permainan antara Tuhan dengan kita. Hanya Tuhanlah yang menangis sebab kita tidak bemain secara jujur. Tuhan senantiasa menunggu untuk ditemukan, tetapi banyak yang pergi untuk mencari yang lain."
Selamat merenung ;-)
ericarani.blogspot.com
Minggu, 01 April 2012
Ketika Jalan itu Harus Berbeda
Ketika cinta harus binasa karena sebuah perbedaan
tunjukkan kesejatiannya dengan perbuatan baikmu
tanpa pernah bermaksud bertopeng
tapi yakinlah bahwa niat baikmu akan berbuah dan berkelimpahan
kembali padamu
Terkadang ketiadaan logika mematahkan sendi-sendi kebenaran
tapi biarlah semuanya mengalir tanpa batas
karena di akhir kehidupan, kita semua bakal mengerti,
mana air kehidupan yang benar-benar menyejukkan dan
melegakan dahaga iman
dan mana air kehidupan yang ternyata hanyalah lidah-lidah
panas
yang membuat jiwa menghilang dari tempat peraduan yang
semestinya
Namamu sudah digariskan dalam kitab kerajaan nirwana
tak perlu kau cemas jika namamu hanya dihapuskan dari
kehidupan seseorang
karena hanya Dia yang perlu kau takuti untuk sebuah nama
Bersyukurlah karena kau pernah menjadi alatNYA
untuk menyatukan hati yang berkeping karena penduaan
kepercayaan
Kembalikan semuanya pada Sang Maha Melihat
Dia kan mencatat niat baikmu
dan tentu saja mencatat keputusannya karena bersikukuh
meninggalkan jalanNYA
ericarani.blogspot.com
Semarang, Minggu, 1 April, 00:23
Langganan:
Postingan (Atom)





