HALAMAN

Senin, 29 September 2014

Pembelajaran berdemokrasi bagi pemilih pemula??? Haruskah???

Mumpung momentnya tepat, barangkali tulisan saya sedikit banyak akan membantu memberikan pencerahan dalam sebuah demokrasi yang sehat, khususnya bagi para pemilih pemula.

Belum lama ini, negara kita tercinta melaksanakan pesta demokrasi 5 tahunan, di mana masyarakat Indonesia melaksanakan pemilihan presiden. Begitu riuhnya suasana pencalonan, masa kampanye, saat pencoblosan, hingga penghitungan suara. Mungkin karena hanya ada 2 nama calon, sehingga kerap kali para pendukungnya berupaya menjatuhkan pasangan lawan satu sama lain.
Pesta demokrasi ini menjadi pelajaran berharga, khususnya bagi pemilih-pemilih pemula, usia anak SMA hingga anak kuliahan, mengenai bagaimana berdemokrasi secara baik dan benar.

Ada 3 hal proses pembelajaran yang mungkin bisa diambil oleh para pemilih pemula :
1) Sebuah proses demokrasi tentulah harus saling menghargai dan menghormati semua pasangan. Betapapun kita mungkin tidak senang dengan salah satu pasangan calon, tapi tentu saja bukan menjadi alasan untuk mencari cara menjatuhkan dengan hujatan, hinaan, maupun caci maki yang terlampau merendahkan. Sikap seperti itu tentulah justru akan menjadi bahan penilaian orang mengenai karakter seseorang. Kita akan semakin dapat menilai sejatinya sifat seseorang, apakah termasuk orang yang mudah tersulut dengan ontran-ontran yang kadang kala tidak jelas itu, ataukah termasuk orang yang mampu mengendalikan emosi secara baik.
2) Alangkah kurang bijaksana apabila calon pilihan kita ternyata tidak masuk kandidat dan kita memilih sikap untuk golput saja. Memang golput termasuk dalam hak azasi manusia, tapi dalam sebuah pelajaran demokrasi, kurang tepat apabila seseorang memilih untuk tidak memilih. Mungkin bagi sebagian orang akan beranggapan, "Kalau saya tidak memilih, tentulah tidak akan memberikan efek apapun, toh hanya 1 orang saja". Bayangkan apabila ada sekian ratus orang yang memiliki pikiran yang sama, tentulah akan semakin menyurutkan arti dari demokrasi itu sendiri. 1 suara begitu berharga ketika semua orang beranggapan yang sama untuk menyerukan "suara saya begitu berharga"
Lebih-lebih saya menghimbau untuk para pengajar bagaimana untuk terus mengajarkan siswanya untuk berdemokrasi secara lebih benar lagi. Apa jadinya negara ini ke depannya, apabila ada seorang pengajar yang justru (maaf) mengajarkan muridnya untuk golput saja. Dan ini harus menjadi pemikiran yang mendalam bagi semuanya saja. Selalu ada yang lebih baik menurut nurani kita, dan keputusan untuk memilih adalah sebuah penghargaan bagi loyalitas diri sendiri terhadap suatu institusi maupun negara (tergantung konteks pemilihannya).
3) Pelajaran yang terakhir adalah mengenai bagaimana untuk dapat bersikap legowo, menerima segala hal apapun yang telah menjadi hasil akhir dari sebuah pemilihan pimpinan. Sungguh tidak dibenarkan untuk siap menang tapi tidak siap kalah. Ketika ikut ambil bagian dalam sebuah pertarungan/perlombaan, mental yang harus dibawa adalah siap menang-siap kalah. Bagaimana mungkin dalam sebuah pertarungan akan menjadi pemenang semua, demikian sebaliknya, bagaimana mungkin sebuah pertarungan tidak ada pemenangnya. Mental ini memang harus ditanamkan sejak dari pemilih pemula. Jika hanya siap menang saja namun tidak siap kalah, alangkah lebih baiknya jika tidak usah ambil bagian dalam sebuah perlombaan/pertarungan tersebut. Lebih-lebih ketidaklegowoan itu mengakar hingga menjadi sebuah kebencian yang mendalam terhadap pemenangnya hingga terus mencari cara untuk menjatuhkannya lagi. Sebab lagi-lagi karakter asli seseorang akan semakin terlihat dari hal ini. Maka sudah sepatutnya untuk berjiwa besar dalam menerima kekalahan dan bersikap rendah hati ketika piala kemenangan berada di tangan kita.

Begitu banyak nilai kehidupan yang dapat diambil dari sebuah proses demokrasi. Besar harapan saya bagi para pemilih pemula untuk dapat lebih bijaksana dan dewasa lagi ketika berhadapan dengan sebuah pesta demokrasi, entah dalam lingkup kecil hingga lingkup pilpres.
Suara kita begitu berharga, berbesar hati ketika kalah, dan rendah hati ketika menang. Dengan begitu, pelajaran demokrasi bangsa ini akan semakin mendewasa. Semogaaaa :-)

Minggu, 02 Juni 2013

Math is Fun (Belajar tentang Nilai Kehidupan dari Rumus Phytagoras)


Phytagoras ???
Untuk anak sekolah barangkali kata tersebut sudah bukan hal asing lg. Tp rasa-rasanya hampir sebagian orang merasa ngeri alias serem dan alias alias yang laen begitu disuguhi soal phytagoras dan teman-temannya.

Namun tidak demikian dengan orang yang punya pikiran positif, klo anak gaul sekarang menyebutnya dengan pothink (positif thinking). Saya contohnya, bernarsis diri sejenak, hwuehehehehehex..

Mari saya ajak kalian untuk merenungkan satu kenyataan bahwa ternyata terdapat nilai kehidupan dalam sebuah rumus phytagoras. Seperti yang kita tahu bahwa phytagoras merupakan cara menghitung sisi dari sebuah segitiga siku-siku. Right? Lalu apa hubungannya? Look at the picture, please :









Nah lhoooo, jangan pusing dulu begitu liat gambar di atas. Nilai kehidupannya sederhana aja kok, hanya mengenai pilihan tentang hidup. Klo secara matematis kan rumus phytagorasnya begini :





Saya permudah saja daripada berumit-rumit ria.
Dalam hidup, pasti kita semua punya tujuan. Sebutlah bahwa kita saat ini berada di posisi B dan akan menuju ke C. Ada 2 cara yang bisa dilakukan, yaitu :
1. Orang akan mengambil 2 step dalam hidupnya yaitu dari titik B ke titik A lalu melanjutkan lagi hingga sampai di titik C. 
2. Sebagian orang yang tidak ingin berlelah-lelah akan langsung mengambil jalan pintas dengan langsung memotong kompas dari titik B menuju ke C.
Toh pada kenyataannya, mau itu mengambil jalan pintas atau jalan biasa, tujuan manusia hanya 1, yaitu sebuah kematian sehingga rumus phytagoras akan berlaku juga bahwa



Memang tidak ada yang salah dengan jalan pintas selama kita tetap konsisten dengan nilai-nilai kejujuran. Ibarat kata, kalau ada jalan yang mudah mengapa harus dipersulit. Tp tentu saja kita tidak boleh menelan mentah-mentah pengibaratan tersebut. Tetap harus dicerna dengan pikiran dan hati yang jernih.
Ternyata belajar matematika tidak selalu memusingkan ya, banyak nilai-nilai kehidupan yang akan kita peroleh di dalamnya. Math is fun, hehehehehex..

So,,
THE CHOICE IS LIKE PHYTAGOREAN FORMULA ;)









Minggu, 2 Juni 2013, 11:25 AM
ericarani.blogspot.com

Selasa, 23 April 2013

Tendensi Uang dalam Dunia Pendidikan

Kehebatan suatu negara sebenarnya dilihat dari dua kacamata saja sudah cukup, yaitu pendidikan dan perekonomian. Tampaknya sederhana tapi justru kedua hal tersebut seperti sebuah lingkaran setan.
Sebuah negara miskin yang perekonomiannya begitu lemah hampir dapat dipastikan bahwa pendidikannya juga rendah. Namun untuk dapat melepaskan diri dari rantai keterpurukan bukanlah sebuah hal yang mudah. Ketika ingin menggerakkan pendidikan terlebih dahulu, tak bisa dipungkiri bahwa pendidikan membutuhkan dana yang tidak sedikit. Dan bagaimana hal tersebut dapat terwujud ketika perekonomian negara dalam keadaan yang terhimpit miskin. Namun ketika akan menggerakkan perekonomian terlebih dahulu, juga mesti ditunjang oleh manusia-manusia brilliant yang mumpuni di bidangnya. Nah, jelas kan bahwa ini terlihat seperti sebuah lingkaran setan. Maka tidaklah mengherankan jika sebuah negara miskin sangat sulit untuk keluar dari jerat kemiskinannya.

Lantas bagaimana dengan Indonesia ???
Mari saya ajak untuk melihat sekelumit kedua permasalahan tersebut.
Indonesia secara kasat mata dan konon ketika ditinjau dengan angka-angka statistik yang kerap kali "berkamuflase", Indonesia sebenarnya bukan termasuk negara miskin, bahkan bisa dikatakan sebagai negara berkembang. Indonesia mestinya mempunyai peluang untuk menjadi negara maju. Tapi apa kenyataannya ?? Hukum yang berlaku di negara ini adalah homo homini lupus yang artinya manusia merupakan srigala bagi manusia lain, manusia memakan manusia. 
Lihat saja dunia pendidikan negara ini, begitu parau dan parah kedengarannya. Peristiwa yang belum lama terjadi, yaitu keputusan MK untuk membubarkan RSBI/SBI. Ternyata proyek itu membuat kebakaran jenggot orang-orang yang menikmati keuntungan di dalamnya. Dan karuan saja sebuah proyek tentang SKM untuk mengganti baju RSBI sedang disiapkan. Para petinggi pendidikan tidak ingin kehilangan akal mengenai peristiwa ini.
Ujian nasional SMA yang carut marut menjadi simbol bahwa ternyata UN hanya sebuah proyek yang tak jelas juntrungannya mengenai tender pengadaannya oleh orang-orang yang disebut para petinggi itu.
Dan sebentar lagi kurikulum pun akan segera berganti. Meskipun sebenarnya masih banyak daerah-daerah di desa yang mungkin baru mau akan memulai kurikulum KTSP, eeee sudah mau diganti lagi. Sosialisasi telah dilakukan, tapi beranikah orang-orang yang ngakunya petinggi pendidikan itu memulai sosialisasinya dari sebuah sekolah yang berada di pedesaan atau bahkan di pedalaman. Barangkali mereka hanya akan memelotot tajam untuk sebuah usul saya yang seperti ini, karena memang terdapat tendensi uang dalam setiap kebijakan.
Mengenaskan memang. Belum lagi uang sertifikasi guru yang nyatanya justru semakin membuat otak para guru menjadi serakah, pemalas, dan tidak ada ketulusan di dalamnya. Saya beri contoh nyata, bagaimana mungkin seorang kepala sekolah yang barangkali pastinya sudah menerima sertifikasi sangat sering untuk membolos dan bermalas-malasan di rumah untuk sebuah alasan yang (menurut saya) sangat mengada-ada. Hanya mau menerima gaji+sertifikasi tapi sangatttttttt malasssssss untuk mengabdikan diri lagi mencerdaskan anak bangsa. Dan masih banyak lagi guru-guru yang ketulusan mengajarnya diragukan, atau mengajar asal-asalan, dan hanya mau terima gaji rutin tiap bulannya.
Saya hanya bisa mengelus dada dengan keprihatinan negeri ini. Tidak selayaknya pendidikan di Indonesia disejajarkan dengan melulu tendensi uang. Dan sungguh saya salut dengan para pengajar yang mengajar di sekolah pedesaan dan pedalaman, justru mereka-mereka inilah pengajar-pengajar sejati yang tidak punya tendesi apapun di luar ketulusan niatnya untuk mencerdaskan generasi penerus bangsa ini.
Mari sama-sama merenung & berintrospeksi diri untuk lebih memajukan dunia pendidikan negara "tercinta" ini sehingga perekonomian pun boleh untuk semakin berkembang dengan satu konsep sederhana, yaitu perekonomian kejujuran dengan pendidikan yang tanpa tendensi apa pun di dalamnya. Semoga.

Kamis, 24 Januari 2013

Yang Terbesar di Dunia


Tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini semakin banyak orang berbicara tentang gemerlap dunia, menimbun kekayaan, enggan untuk berbagi, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan tujuannya menjadi "kaya". Namun, tahukah Anda, semakin mereka berusaha keras, dunia tak akan pernah memuaskan mereka. Ibarat menggenggam dunia seperti menggenggam sebuah bola, padahal nyata-nyatanya dunia tidak akan pernah bisa digenggam. Karena begitu sulitnya menggenggam dunia, maka yang kerap kali terjadi adalah bukannya dunia yang dikuasai, tetapi mereka yang dikuasai oleh dunia. Manusia sudah tidak bisa lagi menguasai dirinya sendiri, melainkan menjadi budak dari keinginannya.

Teringat sebuah pertanyaan seorang teman, "Di dunia ini, apakah yang paling besar ?"
Sejenak saya terdiam berpikir.
Lalu saya jawab dengan bercanda, "Anak TK saja tahu bahwa yang paling besar di dunia ini adalah Gunung. Gunung Mount Everest mungkin." 
Dan kawan saya berujar,"Salahhhhhh!!! Yang terbesar di dunia ini adalah NAFSU."
Lalu kami tertawa.
Seperti sebuah lelucon, tapi ada benarnya dengan perbincangan kami, bahwa Nafsu memang telah menjadi yang terbesar di dunia dan tentu saja telah membutakan mata hati siapa saja yang kurang beriman. Nafsu untuk mendapatkan jabatan yang tinggi, nafsu untuk mendapatkan harta yang banyak, bahkan nafsu untuk mempunyai istri banyak. Terlalu banyak yang terkena penyakit "Nafsu" ini. Dan lucunya, orang-orang berlomba-lomba mengejarnya dengan memasang muka tembok beton tak berurat malu. Ahhh, gilaaa, mungkin dunia sudah mau kiamat.

Jujur dianggap aneh. Orang sudah tak lagi mementingkan proses. Sederhana juga tak lagi menjadi gaya hidup impian. Prinsip ekonomi sudah mulai menjadi tidak waras lagi dengan memplesetkan "Dengan sedikit pengorbanan, orang akan berusaha mencari keuntungan sebesar mungkin. Bahkan jika bisa, hanya dengan sekedip mata saja, seonggok emas dan setumpuk uang sudah terkumpul di hadapan."

Ya, PARAHHH memang !! Saat ini pemaknaan manusia mengenai kehidupan hanya dikonkretkan dalam wujud materi, yang mana semuanya itu bermuara pada kepentingan diri semata. Semua relasi, tendensi, dan aktivitas manusia hanya dinilai dari mata uang.

Meluruskan kesalahan orang, malah dimusuhi. Menasehati kekeliruan orang, malah mendapat caci maki. Kawan telah jadi lawan. Sahabat telah menjadi menjadi pengkhianat hanya karena kekuasaan dan materi belaka yang akan musnah ketika manusia mati. Sungguh dunia ini kini terbalik-balik, tak tahu yang mana kawan yang mana lawan, ibarat membeli kucing dalam karung.

Dan hanya satu yang membedakan antara manusia yang alim dan lalim/zalim. Penghayatan akan kebutuhan transendental. Semakin manusia memaknai secara mendalam akan kebutuhan tersebut, tentulah kedekatan dengan Tuhan jua lah yang akan memuaskan nafsunya, bukan lagi dengan materi, kekuasaan, maupun jabatan yang fana.

"Carilah dulu Tuhan beserta kebenarannya, maka semuanya akan ditambahkan kepadamu! Karena sesungguhnya upahmu akan besar di Surga" 
Amin.

Selamat merenung ;-)










ericarani.blogspot.com
Semarang, Kamis, 24 januari 2013, 7:56AM

Jumat, 18 Januari 2013

Sejenak Berdoa


Sebelum mata terpejam, di saat badan telah lelah beraktivitas seharian, ada baiknya sejenak tundukkan kepala, membuka hati, mengucap syukur, menyerahkan jiwa hanya kepadaNYA yang memiliki kuasa atas hidup manusia dengan berucap :

Tuhan,
Aku menyerahkan seluruh keuanganku kepadaMU
Kiranya aku menjadi hamba yang baik dari setiap keping talenta yang telah Engkau titipkan kepadaku
dan tolong aku mengingat,
bahwa segala kepunyaanku sebetulnya adalah milikMU
Aku berdoa supaya aku mudah untuk memberi kepadaMU dan sesamaku
Karena aku sangat menayadari,
bahwa jika aku mencari kerajaan-MU terlebih dahulu,
maka semua yang kubutuhkan akan ditambahkan kepadaku.
AMIN.









ericarani.blogspot.com
Semarang, 18 Januari 2013, 08:53 AM

Sabtu, 22 Desember 2012

Dewasaaa ???



Apa yang terlintas dalam benak kita ketika melihat judul "Dewasa ??" Mungkin sebagian orang akan berpikir bahwa dewasa berarti tua. Atau juga dewasa berarti bijak. Barangkali dewasa juga dimaksudkan untuk menjelaskan tentang pikiran yang berwawasan luas. Hhmmm, persepsi orang pasti berbeda-beda. Tapi menurut saya, kedewasaan tidak tergantung dengan umur, melainkan erat kaitannya dengan emosi.

Kerap kali kita mendengar ungkapan bahwa "Menjadi tua itu pasti, tapi menjadi dewasa adalah pilihan". Jadi tidak semua orang yang sudah berumur memiliki sikap kedewasaan yang matang. Banyak juga orang-orang yang dari segi umur mestinya bisa bersikap bijak, namun ternyata malah menonjolkan sisi kekanak-kanakan. Sungguh ironi memang, tapi itulah yang membenarkan ungkapan bahwa dewasa adalah sebuah pilihan. Apakah kita berani memilih untuk menjadi dewasa ataukah kita memilih untuk menjadi tua tanpa pernah mendalami arti tentang kedewasaan yang sesungguhnya ???

Seseorang dikatakan dewasa ketika bisa mengontrol dirinya dengan sangat baik, mengontrol emosi, mengontrol pikiran, mengontrol ucapan, mengontrol tingkah laku. Saya ilustrasikan begini :
Ketika kita dilukai, pasti tensi akan naik, perasaan sakit yang mendera pasti sangatlah perih, yang juga emosi kita akan ikut melonjak. Nah di sinilah sisi kedewasaan akan memainkan perannya. Kita akan bisa menilai kepribadian seseorang dari hal itu. Jika emosi seseorang meluap dengan sangat dasyatnya bahkan dengan nada yang lantang marah-marah tak jelas haluannya, saya bisa mengatakan bahwa orang tersebut jauh dari kata dewasa. Demikian sebaliknya, ketika emosi bisa dikontrol, pikiran tetap tenang, nada pembicaraan tetap terjaga, walau akan sering-sering menghela nafas panjang dan ber-Istighfar "Astaghfirullahhal'adhim", di situlah seseorang bisa dikatakan dewasa.

Memang sungguh bukanlah sebuah perkara mudah untuk tetap bisa mengendalikan segala sesuatunya saat berada dalam keadaan tersakiti. Tapi dengan terus melatih diri, menata keadaan yang menyakitkan dalam suatu konsep bahwa Tuhan tidak pernah tidur dan melihat semuanya, termasuk hati kita yang terlukai, maka point kedewasaan kita akan semakin bertambah dalam dua tahap sekaligus, yaitu kedewasaan diri dan kedewasaan iman. Dan dua hal itu lah yang menjadi pondasi beriringan dalam pilihan kita untuk menjadi dewasa.


Selamat merenung
;-)








ericarani.blogspot.com
Semarang, 22 Desember 2012

Rabu, 14 November 2012

BERBAGI DALAM KEKURANGAN


Sungguh menyentuh mendengar seseorang memberi siraman jiwa yang begitu menyejukkan dan memberikan kedamaian.

Seorang yang kaya berderma?? Barangkali itu sudah biasa. Tapi ketika seorang yang hanya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya saja masih sangat kekurangan, dan dia bisa mendermakan seluruh nafkahnya, itu baru bisa disebut Amazing. Tapi beranikah kita bertindak seperti itu?? Sepertinya kita harus berpikir ratusan kali untuk melakukannya.

Sebagai ilustrasi,
Seorang kaya yang punya banyak duit menyumbang pembangunan masjid sebesar Rp 1.000.000,00, sementara penghasilannya 1 bulan mencapai puluhan juta. Sedangkan seorang wanita tua renta juga ikut menyumbang pembangunan masjid sebesar Rp 100.000,00 dan itulah satu-satunya uang yang dimilikinya.
Dalam ilustrasi tersebut tampak jelas bahwa si orang kaya memberi derma dari kelebihannya sementara si wanita tua tersebut memberi dari kekurangannya.

Lantas bagaimana dengan kita???
Ketika kita akan berderma, di dompet terdapat uang dengan warna merah(100.000) , biru(50.000) , dan hijau(20.000), manakah yang akan kita dermakan?? Sepertinya jika disuruh memilih, kebanyakan dari kita akan mendermakan yang berwarna hijau. Itu berarti kita berderma dari kelebihan yang kita punyai. Sedangkan ketika kita berani mengambil keputusan untuk mendermakan yang berwarna merah, itulah yang disebut berderma dari kekurangan kita.

Sooooo, beranikah kita memberi dari kekurangan kita??? Apapun pilihan kita, esensi dari berderma adalah ketulusan dan keikhlasan. Berapapun nominalnya, jika kita memberi dengan keterpaksaan, tentulah tiada artinya. Dan satu hal lagi, bahwa tidak perlu menunggu kaya untuk bisa berderma.

Selamat Merenung ;-)



Semarang, ericarani.blogspot.com
22 Desember 2012, 07 : 52 AM